Pengelolaan
lingkungan hidup dalam perspektif historis, diawali dengan kesadaran akan
masalah lingkungan hidup pada tahun 1960. strategi pengelolaan lingkungan hidup
yang diterapkan didasarkan pada pendekatan daya dukung
(carryingcapacityapproach). pendekatan yang berbasiskan kemampuan lingkungan
hidup untuk mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya ini ternyata
sulit untuk diterapkan, karena terbukti terus menurunnya kondisi lingkungan
hidup.
Berdasarkan
konsep dasar, minimalisasi limbah cair industri tekstil adalah dimaksudkan
untuk mendapatkan jumlah atau volume limbah dengan konsentrasi dan beban
pencemaran yang minimal, upaya pencegahan pencemaran lingkungan hidup melalui
pendekatan peminimalan limbah, yakni dengan cara pengurangan limbah (recycling)
pada hakikatnya adalah manifestasi komitmen yang berwujud nyata mencegah
gangguan pencemaran lingkungan hidup dalam skala yang lebih besar dan mengancam
kehidupan masyarakat.
Prinsip-prinsip
pokok dalam sistem manajemen lingkungan hidup terpadu digambarkan oleh Elina
Hasyim, sebagai berikut:
1.
Reduksi pada sumber dan
pemanfaatan kembali adalah upaya mengurangi atau meminimumkan penggunaan bahan
bakar, air, dan energi serta menghindari pemakaian bahan baku yang beracun dan
berbahaya, disertai dengan pengolahan bahan baku dan housekeeping yang baik
agar tidak menambah beban pencemaran.
2.
Pengolahan limbah
dilakukan setelah limbah tersebut tidak dapat lagi dimanfaatkan, selanjutnya
pembuangan limbah sisa pengolahan disesuaikan dengan persyaratan yang
ditentukan oleh pemerintah.
3.
Sistem manajemen
lingkungan hidup terpadu harus disertai perubahan pola pikir, sikap dan tingkah
laku dari semua pihak di lingkungan industri.
4.
Industri yang
melaksanakan sistem manajemen lingkungan hidup terpadu dapat dikategorikan
sebagai industri yang telah menerapkan prinsip eco-eficiency yang merupakan
bagian dari konsep ekologi industri, yakni tidak mengenal limbah.
1.
Pengendalian
Pencemaran Limbah Industri Secara Terpadu
Pencemaran
lingkungan hidup akibat buangan limbah industri tekstil sebagaimana telah
dikemukakan terdahulu, bahwa cepat atau lambat mengganggu kehidupan masyarakat
dan dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup secara berkesinambungan. Oleh
karena itu, upaya pengendalian pencemaran limbah industri tekstil ini secara
terpadu diharapkan lebih membantu efektivitas pengendaliannya. Konsep pencemaran
pengendalian limbah industri secara terpadu adalah merefleksikan keterpaduan beberapa hal fundamental yang dipandang dapat
mencegah pencemaran limbah industri.
Pendekatan
terhadap perlindungan lingkungan hidup selama ini menurut Otto Soemarwoto
adalah apa yang disebut dengan metode ujung pipa (end of pipe). Pendekatan ujung pipa ini menguntungkan , tetapi
perusahaan mengeluarkan biaya lebih untuknya sampai mendapatkan keuntungan yang
lebih sebagai hasilnya. Surutnya
keinginan kalangan industri untuk membangun fasilita pengolahan limbah dipabriknya disebabkan
karena besarnya biaya penyediaan fasilitas tersebut dan tentunya akan
mengurangi profit marginnya.
Teknologi
dan produksi bersih merupakan sebuah paradigma baru dalam melakukan pembangunan
ekonomi melalui industri. Dalam paradigma baru ini bukan hanya masalah
pengolahan dan pencegahan pencemaran limbah yang dipertimbangkan, tetapi sedini
mungkin langkah-langkah produksi, penerapan dan pengembangan teknologi
didasarkan atas upaya dalam meminimalisir limbah
Salah
satu upaya dalam mengendalikan pencemaran limbah industri tekstil yaitu dengan
membuat instalasi pengolahan air limbah sebagai langkah nyata industri untuk
memperhatikan keberadaan lingkungan hidup dari pemcemaran limbah. Selain itu
pemakaian bahan-bahan kimia harus kurangi.
Keterpaduan
aspek dalam pengendalian limbah industri tekstil, selain penerapan teknologi
dan produk bersih, dan pengolahan limbah adalah upaya minimasi (pengurangan)
limbah secara terpadu oleh perusahaan-perusahaan industri tekstil. Menurut
Isminingsih Gitoparmodjo dan Wiwin Winiati, peminimalan limbah ini dapat dilakukan
terhadap beberapa kegiatan kunci, antara lain:
1.
Pengurangan limbah
(sourcereduction) melalui beberapa perubahan produk, pencegahan dan perencanaan
yang cermat.
2.
Kontrol bahan
(sourcecontrol) terhadap perubahan input bahan, perubahan teknologi dan pelaksanaan
operasi yang baik.
3.
Kontrol terhadap
kegiatan daur ulang (recycling) baik di dalam maupun di luar lokasi industri,
seperti pemanfaatan dan penggunaan kembali
(useandreuse), dan reklamasi (recovery) untuk mengembalikan bahan
pembantu dari limbah.
Benar
bahwa kegiatan sektor industri tekstil tersebut pada satu sisi akan menghasilkan
barang yang bermanfaat bagi kesejahtraan hidup masyarakat, trtapi pada sisi
lain kegiatan sektor industri tekstil ini juga akan berdampak negatif pada
lingkungan hidup.
2. Pemanfaatan Konsep Ekologi Industri
dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
Persoalan lingkungan
hidup dalam beberapa decade terakhir ini menurut kajian kalangan teoretisi
semakin meluas, mulai dari polusi udara dan air, menuju pada masalah-masalah
seperti penggundulan hutan dan pengikisan lapisan tanah, penipisan lapisan ozon
dan pemanasan global. Fakta telah menunjukan bahwa tidak ada tempat di dunia
yang tidak tercemar dan tidak ada industry manapun yang dapat terbebas dari
tanggung jawab atas berbagai kerusakan lingkungan hidup yang terjadi.
Pencemaran atau perusakan lingkungan
hidup dalam perspektif global, secara factual hamper terjadi pada Negara di
berbagai belahan dunia. Deskirpsi terhadap kondisi realitas lingkungan hidup
tersebut tidak berlebihan, karena kasus pencemaran atau kerusakan lingkungan
hidup akibat berbagai kegiatan industri termasuk yang terjadi di Indonesia.
Indikasinya masih banyak industri yang membuang limbah cairnya secara
sembarangan sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan hidup yang mengganggu
kehidupan masyarakat.
Komitmen perusahaan-perusahaan
industri tekstil untuk memanfaatkan konsep ekologi industri dalam pengelolaan
lingkungan hidupnya, merupakan upaya antisipatif menghadapi kemungkinan negatif
yang mencuat ke permukaan dan mengancam kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Pemanfaatan konsep ekologi industri itu pada dasarnya adalah upaya mengurangi
dampak- dampak lingkungan suatu ekologi karena kegiatan industri. Bahkan konsep
ini beratribut sebagai suatu pendekatan yang mengintegrasikan aktivitas
industry dalam system ekologi.
Menurut pandangan Allenby,
sebagaimana dikuti oleh Suma T. Djajaningrat dan Mella Famiola:
Ekologi
indisutri berarti manusia dapat dengan bebas dan secara rasional mendekati dan
memelihara apa yang diinginkannya sesuai kemampuannya, member keberlanjutan
secara ekonomi budaya dan perubahan teknologi.
Konsep ekologi industri tersebut
mengandung makna bahwa suatu system industri jangan dipandang secara
terpisahdari system yang ada di sekitarnya, tetapi sebaliknya haruslah
menyatukan dengan system disekitarnya tersubut, dengan tujuan untuk menemukan
cara untuk mengoptimalkan daur material dari material murni, produk akhir,
komponen produk sampah hingga penjualan akhir. Faktor-faktor yang dioptimalkan
tersebut terdiri dari sumber daya energy dan modal.
Ekologi industri dalam konteks yang
lebih dalam tidak lain adalah bagaimana mengatur atau mengelola
aktivitas-aktivitas manusia berkelanjutan dengan cara mengintegrasikan
system-sistem yang penting dalam system alam. Meminimalisasi penggunakaan
energy dan material dan dampak-dampak aktivitas manusia terhadap kerussakan
lingkungan hidup.
Pemanfaatan konsep ekologi industry
dalam pengelolaan lingkungan hidup sebagai upaya pencegahan pencemaran limbah
industry, pada prinsipnya berkaitan erat dengan konsep pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup yang dilaksanakan di Indonesia,
karna tujuan ekologi industry adalah untuk memajukan dan melaksanakan
konsep-konsep pembangunan berkelanjutan, dengan menemukan antar kebutuhan
generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Ada 3 prinsip kunci pembangunan
berkelanjutan yang menjadi tujuan ekologi industry sebagai berikut.
1.
Penggunaan sumber daya
alam yang berkelanjutan. Ekologi industry mengembangkan prinsip untuk lebih
mengutamakan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan mengurangi
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.
2.
Menjamin mutu atau
kualitas hidup masyarakat sekitarnya. Kualitas hidup manusia tergantung kepada
kualitas komponen lain dalam ekosistem, sehingga hal ini menjadi focus dalam
konsep ekologi industry.
3.
Memelihara kelangsungan
hidup ekologi system alam. Tantangan utama pembangunan berkelanjutan adalah
upaya untuk mencapai keadilan antar generasi antar masyarakat.
Berdasarkan
ketiga prinsip kunci pembangunan yang menjadi tujuan ekologi industry tersebut,
semestinya mendorong perusahaan-perusahaan industry tekstil memperbaiki
kualitas pengelolaan lingkungan hidup dan memperlihatkan komitemen yang serius
untuk menjaga kualitas hidup masyarakat.
Karakteristik
konsep ekologi industry adalah mengintegrasikan sistem-sistem penting dengan
masalah alam, meminimalisasi penggunaan energi dan material dan meminimasi
dampak-dampak aktivitas manusia terhadap kerusakan lingkungan hidup, selayaknya
perusahaan-perusahaan menempatkan konsep fundamental terutama antisipasi
terhadap kemungkinan pencemaran limbah industrinya.
Konsep
ekologi industry secara teoritis lebih memperkuat beragam upaya perusahaan
tekstil untuk mengurangi dampak yang ditimbulakn terhadap masyakarat. Hal
tersebut dapat ditelaah dengan pendekatan yang digunakan dalam konsep ekologi
industry yang mengintegrasikan aktivitas industri dalam sistem ekolgi sehingga
tidak menimbulkan gangguan yang dapat berakibat buruk terhadap konsidi
lingkungan hidup.
Beberapa
perspektif konsep ekologi industri yang dikemukakan oleh Robert Scoolow dapat
memperjelas ruang lingkup ekologi. Beberapa perspektif dalam ekologi industri,
antara lain
1.
Ekologi industri
berfokus pada tujuan kelanggengan hidup untuk jangka panjang daripada jangka
pendek.
2.
Ekologi industri
berfokus pada masalah-masalah yang bersifat local, nasional, regional dan
global.
3.
Ekologi industri
berfokus pada kasus-kasus yang berhubungan dengan aktivitas manusia yang
berhubungan dengan sistem alam.
4.
Ekologi industri muncul
dengan tujuan untuk memahami dan memproteksi sistem alam dengan manusia.
5.
Ekologi industri
menggunakan teknik sistem Mass-flow analysis.
6.
Ekologi industri
memandang pelaku ekonomi sebagai pelaku sentral.
Salah
satu perspektif ekologi industri yang memandang pelaku ekonomi, khususnya
perusahaan swasta sebagai pelaku sentral dalam mengurangi dampak lingkungan
hidup. Proteksi industri tekstil terhadap aktivitas pada tahapan proses atau
pembuangan limbah sisa pengolahan merupakan salah satu persoalan esensial yang
semestinya tetap menjadi konsentrasi yang berkelanjutan dalam menjalankan
usahanya.
Proteksi
industri tekstil terhadap pembuangan limbah sisa pengolahan, termasuk pula
upaya yang berimplikasi positif karena komitmen industri untuk menjaga
eksistensi masa depan lingkungan hidup secara tekniks dilakukan dengan cermat
untuk mencegah dampak negative yang ditimbulakn akibat kecerobohan.
Pencemaran
limbah industri menjadi salah satu problematika serius yang tetap dihadapi oleh
industri tekstil. Oleh karena itu, pemanfaatan konsep ekologi industri dalam
pengendalian pencemran limbah sekurang-kurangnya dapat membantu mencegahnya.
Menurut
Suma T. Djajadiningrat dan Melia F, ekologi industri terbentuk karena
direncanakan sehingga ekolgi industri ini dapat melibatkan kolaborasi atau
merupakan habitat aktivitas industri limbah dan surplus energy yang dihasilkan
dari suatu proses industri dapat dimanfaatkan juga oleh industri lain.
3. Hambatan dalam
Pencegahan Pencemaran Limbah Industri Tekstil
Salah
satu kebijakan pembangunan lingkungan hidup dalam rencana pembangunan jangka
menengah nasional 2004-2009, adalah meningkatkan upaya pengendalian dampak
lingkungan akibat kegiatan pembangunan.
Kebijakan
pembangunan lingkungan hidup itu cukup beralasan, karena berdampak pula pada
eksistensi kelangsungan lingkungan hidup dalam jangka panjang. Oleh karena itu,
upaya pengendalian dampak lingkungan semestinya menjadi perhatian serius
pemerintah dan pelaku ekonomi khususnya perusahaan-perusahaan industri tekstil
nasional, sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil
mungkin dan upaya pengendaliannya untuk mencegah kondisi lingkungan hidup agar
tidak mengkhawatirkan merupakan persoalan yang tetap diantisipasi dalam gerak
maju pembangunan, khususnya pembangunan bidang industri.
Pembangunan
bidang industri pada satu sisi dibutuhkan untuk menyediakan barang dan jasa
bagi kehidupan masyarakat, memperluas kesempatan kerja dan dapat meningkatkan
devisa negara melalui kegiatan ekspor, akan tetapi sisi lain pembangunan bidang
indsutri juga melahirkan atau membawa konsekuensi serius berupa dampak
negatifnya terhadap lingkungan hidup. Khusus mengenai dampak pencemaran limbah
industri tekstil yang pernah mencuat ke permukaan, antara lain kasus pencemaran
sungai simalungun (Medan), sungai ciliwung (Tangerang), areal persawahan dan
sungai cikijing (Kabupaten Bandung) dan kasus pencemaran lingkungan hidup
lainnya.
Pencemaran
lingkungan hidup akibat buang limbah industri tersebut menurut Wisnu Arya
Wardhana, sangat merugikan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kerugian secara langsung adalah dirasakan akibatnya secara cepat, sedangkan
kerugian secara tidak langsung adalah lingkungan menjadi rusak. Sehingga daya
dukung alam terhadap kelangsungan hidup manusia menjadi berkurang.
Upaya
pencegahan pencemaran limbah industri dapat dilihat dari sisi bisnis menurut
Suma T. Djajadiningrat, manfaat utama adalah perbaikan mutu lingkungan hidup
sebagai akibat berkurangnya limbah dan bahan berbahaya dan beracun yang dibuang
oleh perusahaan-perusahaan industri tersebut. Manfaat lainnya dapat
meningkatkan daya saing dalam kegiatan usaha, menumbuhkan citra positif
dimasyarakat, mengurangi tanggung jawab risiko terhadap pelanggaran hukum dan
manfaat ekonomi karena pengurangan biaya pengolahan limbah. Beberapa manfaat
yang dideskripsikan tersebut semestinya diterapkan oleh perusahaan-perusahaan
industri tekstil, karena adanya nilai-nilai positif yang terkandung dalam
manfaat pencegahan pencemaran limbah itu, namun bukan tanpa hambatan dalam
implementasinya.
Hambatan-hambatan
dalam mencegah pencemaran limbah industri tersebut, khususnya
perusahaan-perusahaan swasta dalam aktivitasnya. Hambatan teknis pengusaha
dalam merespons tuntutan untuk mencegah pencemaran limbah industri, misalnya
bukan masalah yang mengagetkan pula dalam lingkup teknis pencemaran limbah
industri ditanah air. Kasus-kasus pencemaran lingkungan akibat buang-an limbah
industri, masalah kesadaran pengusaha ini dapat menghambat lemahnya upaya
pencegahan pencemaran limbah industri secara internal dan eksternal, konsisten
dan berkesinambungan untuk melindungi lingkungan hidup.
Faktor-faktor
teknis lain yang menghambat pencegahan pencemaran limbah industri, belum
tersedianya teknologi pencegahan dan sikap konversatif pengusaha untuk tidak
mengubah pandangannya mengurangi limbah dalam proses produksi, melengkapi
gambaran negatif pula upaya pencegahan pencemaran limbah industri.
Faktor-faktor teknis ini dalam praktik tidak menutup kemungkinan dihadapi dan
menghambat perusahaan-perusahaan industri tekstil mencegah pencemaran limbah
industrinya.
Beberapa
pimpinan perusahaan industri tekstil yang menjadi fokus penelitian, secara
teknis operasional menghambat kinerja perusahaan industri secara rutin
melakukan upaya pencegahan pencemaran limbah industrinya. Pimpinan perusahaan
industri tekstil lainnya memandang, adanya terknologi berwujud teknologi bersih
akan membantu mengurangi hambatan dalam pencegahan pencemaran limbah atau
kekurangan yang sering dihadapi adalah minimnya tenaga-tenaga (SDM) yang
terampil dalam aktivitas pengoperasian peralatan, menjadi hambatan yang tidak
terelakkan dalam upaya pencegahan pencemaran limbah industri tekstil. Selain
hambatan-hambatan teknis pencegahan peencemaran limbah tersebut, faktor
terbatasnya kemampaun keuangan diduga dapat berimplikasi pada upaya mendukung
operasionalisasi kegiatan, sehingga cepat atau lambat akan mengurangi biaya
yang cukup untuk implementasi program-program yang telah disusun secara
sistematis untuk mencegah pencemaran limbah industri dalam rutinitas
kegiatannya.
Aspek
teknis dan teknologis menurut Hanafi
Pratomo, tidak ada buangan yang bisa di olah. Dengan kemampuan
teknologi, semua limbah industri sudah tersedia konsep proses dan peralatannya.
Namun, kesulitan yang timbul adalah pertimbangan aspek ekonomi yang menjadi
hambatan, seperti masalah biaya dan teknis lainnya.
Masalah
alokasi biaya untuk kepentingan mencegah pencemaran limah yang d lakukan oleh
perusahaan industri tekstil, adalah salah satu hambatan yang mengganggu upaya
melindungi ancaman pencemaran industri.
Masalah
tersedianya biaya oprasional dalam rutinitas kegiatan pencegahan pencemaran
limbah bagi perusahaan industri tekstil yang bersekala besar, yang menjadi
hambatan serius dan mencemaskan, karna secara teknis dapat teratasi bergantung
kepada komitmen dan kesadaran para pengambil keputusan di perusahaan industri
tekstil bersangkutan.
Sebaiknya,
perusahaan industri kecil dan menengah, tetap dihadapkan pada kemungkinan
tebatasnya biaya pendukung operasionalisali kegiatan pencegahan pencemaran
limbah di lapangan.
Deskripsi
pada hambatan di bidang keuangan untuk mencegah pencemaran limbah industri
tersebut, hampir dialami oleh perusahaan industri tekstil yang menjadi fokus
penelitian. Seperti ungkapan salah satu pemimpin perusahaan industri tekstil,
bahwa makin banyak tumbuh dan berkembangnya industri tekstil makin tinggi beban
dan pencemaran. Faktor biaya rutin menjadi hambatan perusahaan dalam melakukan
pencegahanpencemaran limbah industri.
Aspek
penting untuk pencegahan pemcemaran limbah industri tekstil ialah, kebutuhan
dana yang digunakan untuk melengkapi fasilitas pendukungnya , seperti pengadaan
peralatan alat pengelola limbah, meningkatkan kualitas SDM untuk melakukan
kegiatan proses pencegahan dll. Meskipun adanya hambatan keuangan masalah
pencegahan pencemaran limbah industri tetap terlaksana sesuai kemampuan teknis
perusahaan.
Hambatan
teknis dan keuangan tidak berarti melumpuhkan aktifitas perusahaan industri melakukan
upaya pencegahan pencemaran limbah. idelaisme untuk menjaga kelestarian fungsi
lingkungan hidup dalam jangka panjang pada tataran implementasinya tetap
menuntut keterlibatan dan peran aktif pelaku ekonomi, khususnya perusahaan
industri tekstil.
Sikap
proggresif dan impresif dapat di abstraksikan sebagai upaya strategis –
preventif dan tindakan proatif di lapangan untuk berbuat maksimal melindungi
lingkungan hidup dari limbah industri yang sulit di prediksi akan berakhir itu,
dengan upaya nyata dan berdampak positif bagi keberlangsungan lingkungan hidup
dan kehidupan masyarakat .
Kemampuan
perusahaan industri tekstil mengaktualisasi beragam upaya seperti penerapan
teknologi dan produk bersih, meminimalisasi limbah, meningkatkan kualitas
pengolahan limbahnya, menyiapkan SDM, terampil, dan dana operasional dalam
rutinitas kegiatannya, akan membantu kinerja pencegahan pencemaran limbah
sehingga cepat atau lambat menumbuhkan respon positif terhadap komitmen dan
kesadaran pelaku ekonomi tersebut dalam menciptakan lingkungan yang sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar